Skip to main content

Menemukan Gaya Belajarku


Saya dilahirkan di keluarga papa mama dengan latar belakang yang berbeda. Papa saya diangkat anak dengan orang tua beragama Islam otoriter. Setelah percaya Yesus, papa saya mengambil sekolah teologia di I-3 S.Th dan STT Cipanas M.Div dan sekarang pendeta emeritus usia 65 tahun. Sedangkan mama saya seorang ibu rumah tangga dengan latar belakang SMA, ibu Kristen dan bapaknya Islam sama-sama berlatar belakang kepala sekolah. Mendidik keempat anaknya dan sekarang berusia 55 tahun tetap mendampingi papa pelayanan di Gereja Kristus Purwakarta. Papa mama mendidik saya dengan kemandirian karena seringkali ditinggal pelayanan. Dan saya banyak berinteraksi dengan jemaat dalam pelayanan orang tua sehingga membentuk suatu pola konsep baik sederhana sampai hal rumit yang tidak jarang papa saya menjelaskan kepada saya. Tidak mengherankan pula jika pola emosi yang cukup stabil menjadi lingkungan dimana saya belajar.

Dari mulai TK, SD,SMP,SMA sampai sempat berkuliah di STTAA, lingkungan Kristiani telah membangun konsep kerohanian yang kuat namun berbeda dengan bagaimana saya belajar tentang keilmuan. Saya seorang anak yang memiliki kemampuan rata-rata cerdas pun berjuang dalam belajar. Sekalipun kemandirian dan kepercayaan diri telah terbentuk, namun terbatas hanya membaca menerima konsep-konsep dan ide-ide serta kurang observasi. Terbatasnya orang tua memberi waktu karena kesibukan pelayanan maka berkurang juga minat saya untuk melakukan percobaan terhadap ilmu yang saya pelajari. 


Hasil Test Bakat guna menentukan penjurusan 2002

Pada waktu sekolah di SMAK Ora et Labora, saya masuk jurusan IPA walaupun terdorong karena banyak teman-teman dekat juga masuk jurusan tersebut. Saya suka dengan ilmu-ilmu IPA, Fisika, Kimia dan matematika namun tidak terlalu mendapat dukungan dan bantuan sehingga usaha yang bisa saya lakukan hanya melalui guru, teman bahkan orang tua teman yang kebetulan seorang guru les. Setiap hari saya bermain dengan teman-teman saya ke rumahnya hanya untuk mendapatkan les gratis untuk belajar. Kesukaan saya sebetulnya mengarahkan saya kepada ilmu sains dan kedokteran, namun keluarga tidak mampu secara finansial. Figur papa yang kuat memang sangat mendorong saya sekolah teologia. Ilmu teologia pun menjadi sangat menarik karena banyak berbicara tentang konsep dan ide.

Hambatan saya di sekolah teologia karena menikah membawa saya pada suatu ilmu rahabilitasi yang lebih dikenal pilates dari kakak ipar saya. Sekolah pilates ini berlesensi Kanada terletak di Vitruvian, Pondok Indah. Ilmu ini mempelajari sains anatomi tubuh manusia, otot, syaraf dan tulang. Terikat kontrak dan langsung bekerja setelah mempelajari ilmu ini menjadi beban yang berat karena gaya belajar saya sangat mengandalkan penguasaan teori konsep serta observasi pengamatan terlebih dahulu baru bisa melakukan pekerjaan ini. Setelah lepas kontrak, saya membutuhkan waktu sekitar 2 tahun untuk bisa mengajar pilates dari mulai usai remaja sampai lansia dengan beragam kasus permasalahan scoliosis, lordosis, sakit di punggung maupun pinggang bahkan osteoporosis.

Sekarang hampir genap 10 tahun saya mengajar pilates dan memiliki banyak pengalaman. Namun saya masih terus belajar dengan gaya belajar membaca menemukan teori konsep yang cocok bagi klien-klien saya juga tidak jarang observasi dari instruktur lain yang mengajar bahkan dari internet baru saya melakukan percobaan. Dari seluruh pembelajaran saya masih membuat corat-coretan untuk menemukan program-program yang tepat bagi klien-klien saya sesuai kebutuhan mereka. Hasil yang klien-klien saya dapatkan tentu membawa sukacita bagi saya. Mereka memiliki tulang belakang sehat, otot kuat dan postur tubuh yang baik.

Teologi bagi saya menjadi dasar pengenalan Tuhan yang mendalam. Tentu sangat berkaitan dengan bagaimana saya belajar dan mengaitkan ilmu apapun yang saya pelajari. Sekarang ini selain dari mendampingi suami melayani saya pun membantu khusus di bagian sekolah minggu. Untuk melakukan perubahan dalam program pelayanan dan regenerasi mendorong saya untuk mengambil program sertifikat di STTAA. Tidak lain karena gaya belajar saya terus mencari teori konsep yang benar dan observasi pengamatan yang tepat barulah saya mengimplementasikan ke dalam pelayanan. Tidak sedikit saya mengkritisi suami saya dalam pelayanan sehingga gaya belajar saya senang sekali dalam sebuah diskusi, membuat coret-coretan dan sambil mendengarkan musik.

Pengalaman saya mirip dengan gaya belajar “assimilator”, salah satu model gaya belajar yang dikemukakan oleh seorang psikolog Amerika, David A. Kolb. Sepadan juga dengan apa yang dikemukakan David Kolb dalam mendesain sebuah model pada gaya belajar ternyata ada tiga faktor yang mempengaruhi yaitu genetika, pengalaman hidup, dan tuntutan lingkungan. Pada tahun 1984, David Kolb berteori jika seseorang ingin mempelajari sesuatu, ia harus memproses dan bekerja pada informasi yang dikumpulkan. Agar proses informasi ini dapat dilakukan secara optimal haruslah sampai kepada pengalaman belajar atau “experiential learning”. 


Banyak sumber yang menjelaskan dengan detail mengenai teori David Kolb, namun saya dalam tulisan ini hanya akan khusus merefleksikan gaya belajar saya, yaitu “assimilator”. Menurut uraian tipologi David Kolb, seseorang yang dikategorikan “assimilator” bekerja mengasimilasikan informasi yang diterima kemudian merefleksikannya melalui pengamatan. 


Assimilator adalah perpaduan antara Abstract Conceptualization (AC) dan Reflective Observation (RO). Abstract Conceptualization adalah belajar melaui pemikiran (thinking) dan lebih berfokus pada analisis logis dari ide-ide, perencanaan sistematis, dan pemahaman intelektual dari situasi atau perkara yang dihadapi. Kelebihannya menciptakan konsep-konsep yang mengintegrasikan observasinya menjadi teori yang sehat dengan mengandalkan pada perencanaan yang sistematis. sedangkan Reflective Observation adalah belajar melalui pengamatan (watching), penekanannya mengamati sebelum menilai, menyimak suatu perkara dari berbagai perspektif dan selalu menyikmak makna dari hal-hal yang diamati. kelebihan akan menggunakan pikiran dan perasaannya untuk membentuk opini, mengobseravasi dan merefleksikan pengalamannya dari berbagai segi. Penting untuk diketahui bahwa usia 18-25 tahun dalam kematangan psikologi perkembangan dalam menangkap konsep abstrak siap mengimplementasikan gaya belajar ini. Adapun kelemahan dari assimilator adalah cenderung teoritis, lebih suka bekerja dengan ide dan konsep yang abstrak dan membutuhkan waktu yang lama dalam mengambil keputusan atau solusi dalam suatu perkara. Bidang yang diminati adalah sains dan matematika. Seorang assimilator membutuhkan guru yang ahli di bidangnya.
Demikian refleksi mengenai gaya belajar saya. Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya 3 hal yang saya senang sekali dalam gaya belajar saya adalah berdiskusi, membuat corat-coretan dan mendengarkan musik. Berkat refleksi ini saya semakin memahami bagaimana saya belajar guna terus mengasah kemampuan, bakat atau talenta yang sudah Tuhan berikan untuk dapat berguna bagi pekerjaan Tuhan.

Comments

Popular posts from this blog

10 tempat jalan-jalan gratis relatif murah ala Fide-fisto

Berhubung punya anak yang belum genap 2 tahun dan 4 tahun fokusnya masih suka main dan aktif lari-larian kesana kemari, saya share 10 tempat jalan-jalan gratis murah meriah ala Fide-fisto 😁😀 sepanjang tahun 2017. Ada 3 jenis tempat yg sangat rekomendasi seperti 1 mall indoor, 2 mall outdoor, 3 sekolah alam. Yang perlu dipertimbangkan kalo ke mall keluar masuk pasti gratis, cari playground dimana anak-anak bebas main sepuasnya, bermodalkan 10rb-50rb saja sudah bisa menikmati fasilitas, alam dan jajan, usahakan bawa bekal dan makan dr rumah supaya lebih irit hihi 😀🤗. Untuk tempat-tempat yang sekiranya bisa mengotori/membasahi baju anak-anak jangan lupa bawa baju ganti termasuk minyak telon ya. Lokasi tempat-tempat yang kami kunjungi lebih sekitaran Bsd & Bogor karena rumah kami ada di tengah-tengah hehe di Gunung Sindur ⛰️🏞️. Karena bawa bocil2 jadi perlu kendaraan pribadi tetapi kendaraan umum pun tidak sulit dicari. Foto-foto ini hanya sedikit saja jadi silahkan explore se...