Skip to main content

Belajar Dari Kehidupan

Natal Silitonga 2019

Apakah selama ini saya sudah belajar? Bagaimana saya belajar? Dan apa yang selama ini saya pelajari? Ternyata pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting dan tidak mudah untuk dijawab karena bagaimana saya belajar merupakan suatu proses yang berlangsung seumur hidup ketika saya mulai dilahirkan hingga sekarang. Saya berefleksi bahwa proses saya belajar terjadi secara natural senada dengan pemikiran Jack Seymour, "Belajar adalah proses natural menyangkut aktivitas manusia yang sangat mendasar." Dan secara sengaja seperti yang diungkapkan Suryabrata, "Belajar adalah suatu proses yang menghasilkan perubahan perilaku yang dilakukan dengan sengaja untuk memperoleh pengetahuan, kecakapan dan pengalaman baru ke arah yang lebih baik."
Kehidupan yang saya lalui bukanlah kehidupan yang tanpa kegagalan dan bukan juga tanpa kebahagiaan. Begitu berwarna-warni pembelajaran yang saya dapatkan dari sebuah kegagalan dan kebahagiaan. Pengalaman-pengalaman kegagalan dan kebahagiaan jika diceritakan tentunya tidak akan cukup dalam blog ini. Pengalaman-pengalaman inilah yang membawa saya masuk dalam proses perubahan dan pertumbuhan khususnya dalam kehidupan saya sebagai seorang yang percaya kepada Kristus. Hal ini sepadan dengan apa yang diungkapkan BJ Sidjabat, "Perubahan yang dialami seseorang yang melibatkan salah satu atau keseluruhan dimensi kepribadiannya.
Gereja Merah Kediri 2019

Belajar dari kehidupan bagi saya waktu yang ada menjadi sangat berarti. Keputusan yang tidak mudah bagi saya dan suami untuk memberikan pendidikan sekolah rumah bagi Fide 6.5 tahun, Fisto 4 tahun dan Fileo 1.5 tahun. Dari berbagai aspek psikologi, finansial dan fleksibilitas saya belajar mendalami filosofi pendidikan sekolah rumah. Masuk ke dalam dunia pendidikan ternyata sangatlah luas lebih dari yang saya bayangkan. Kualitas waktu, pengetahuan dan kemandirian yang menjadi fokus saya dan suami. Maka baik di rumah maupun di luar saya, suami dan anak-anak belajar bersama mencakup pengetahuan Alkitabiah dan pengetahuan dasar bagi anak-anak usia rentang 0-12 tahun. 
Kehidupan seorang ibu dengan 3 anak inilah yang sangat menjadi perhatian saya saat ini. Refleksi jatuh bangun saya menjadi seorang ibu yang membesarkan dan mendidik mereka sambil bekerja sebagai guru pilates mendukung suami secara finansial. Namun demikian justru untuk alasan inilah saya memberanikan diri untuk belajar khusus program sertifikat pendidikan Kristen di STT Amanat Agung tidak hanya terus saya ingin mengupgrade diri dalam mendukung pelayanan pastinya akan berpengaruh bagaimana saya membesarkan dan mendidik anak-anak saya.
Belajar tentang Domba yang Hilang

Kehidupan saya sebagai seorang anak hamba Tuhan, seorang isteri hamba Tuhan dan seorang ibu dengan 3 anak tentu membawa banyak sekali refleksi pembelajaran. Sebagai seorang anak hamba Tuhan tentu menjadikan kehidupan saya sedikit tidak normal karena tuntutan sempurna namun demikian saya belajar bahwa tidak ada yang membedakan hal itu bagi anak lainnya. Justru saya belajar bahwa sangat menguntungkan menjadi anak hamba Tuhan mungkin tidak sulit bagi saya untuk memiliki gambaran yang utuh bagaimana seharusnya hidup sebagai anak yang percaya kepada Kristus. Ternyata tidak lain mempersiapkan saya menjadi seorang isteri hamba Tuhan saya belajar bagaimana seharusnya memperlengkapi diri mendampingi suami dalam pelayanan. Saya bersyukur tidak menjadi kesulitan yang besar terbiasa menjadi anak hamba Tuhan sekaligus menjadi isteri hamba Tuhan dalam menghadapi persoalan pelayanan maupun kehidupan berjemaat. 
Inilah yang dapat saya refleksikan dari pertanyaan apakah selama ini saya belajar? semoga terjawab dari cerita yang bisa saya ungkapkan. Dalam sebuah refleksi yang diminta ibu dosen kami, ibu Daesy H.Sanger di kelas teori belajar sangat mengingatkan saya bahwa berpikir reflektif telah membawa perubahan dan pemaknaan yang lebih mendalam. Paling tidak saya termotivasi semakin ingin banyak belajar dan tidak akan pernah berhenti belajar.

"Belajar adalah proses berpikir yang menghasilkan makna baik melalui skema perspektif maupun skema makna." Jack Seymour

Bersama Komunitas Kristen Home Schooling Eaglenest

Comments

Popular posts from this blog

10 tempat jalan-jalan gratis relatif murah ala Fide-fisto

Berhubung punya anak yang belum genap 2 tahun dan 4 tahun fokusnya masih suka main dan aktif lari-larian kesana kemari, saya share 10 tempat jalan-jalan gratis murah meriah ala Fide-fisto 😁😀 sepanjang tahun 2017. Ada 3 jenis tempat yg sangat rekomendasi seperti 1 mall indoor, 2 mall outdoor, 3 sekolah alam. Yang perlu dipertimbangkan kalo ke mall keluar masuk pasti gratis, cari playground dimana anak-anak bebas main sepuasnya, bermodalkan 10rb-50rb saja sudah bisa menikmati fasilitas, alam dan jajan, usahakan bawa bekal dan makan dr rumah supaya lebih irit hihi 😀🤗. Untuk tempat-tempat yang sekiranya bisa mengotori/membasahi baju anak-anak jangan lupa bawa baju ganti termasuk minyak telon ya. Lokasi tempat-tempat yang kami kunjungi lebih sekitaran Bsd & Bogor karena rumah kami ada di tengah-tengah hehe di Gunung Sindur ⛰️🏞️. Karena bawa bocil2 jadi perlu kendaraan pribadi tetapi kendaraan umum pun tidak sulit dicari. Foto-foto ini hanya sedikit saja jadi silahkan explore se...

Menemukan Gaya Belajarku

Saya dilahirkan di keluarga papa mama dengan latar belakang yang berbeda. Papa saya diangkat anak dengan orang tua beragama Islam otoriter. Setelah percaya Yesus, papa saya mengambil sekolah teologia di I-3 S.Th dan STT Cipanas M.Div dan sekarang pendeta emeritus usia 65 tahun. Sedangkan mama saya seorang ibu rumah tangga dengan latar belakang SMA, ibu Kristen dan bapaknya Islam sama-sama berlatar belakang kepala sekolah. Mendidik keempat anaknya dan sekarang berusia 55 tahun tetap mendampingi papa pelayanan di Gereja Kristus Purwakarta. Papa mama mendidik saya dengan kemandirian karena seringkali ditinggal pelayanan. Dan saya banyak berinteraksi dengan jemaat dalam pelayanan orang tua sehingga membentuk suatu pola konsep baik sederhana sampai hal rumit yang tidak jarang papa saya menjelaskan kepada saya. Tidak mengherankan pula jika pola emosi yang cukup stabil menjadi lingkungan dimana saya belajar. Dari mulai TK, SD,SMP,SMA sampai sempat berkuliah di STTAA, lingkungan Kristiani...