Skip to main content

Seorang Murid Belajar

Robert M. Gagne lahir 21 Agustus 1916 wafat 28 April 2002

Bagaimana murid-murid Tuhan Yesus belajar? Tipe belajar seperti apakah ketika murid-murid Tuhan Yesus belajar? Pertanyaan yang menarik sekali. Untuk menjawabnya penulis akan menyoroti salah satu bagian dalam kitab Injil yaitu Markus 10:17-27 dan mengaitkan dengan teori-teori belajar dari Robert M. Gagne.
Markus 10:17-27 berbentuk narasi yang berisi perumpamaan Tuhan Yesus mengenai orang kaya sukar masuk Kerajaan Allah. Waktu dan tempat menunjukkan di dalam perjalanan Tuhan Yesus dan murid-muridNya ke Yerusalem. Beberapa tokoh yang muncul selain Tuhan Yesus dan murid-muridNya adalah seseorang yang datang dan bertelut di hadapan Tuhan Yesus. Lukas 18:18 mencatat seseorang ini adalah seorang pemimpin, tidak diketahui lebih jelas identitasnya. Markus dan Lukas mencatat hal yang sama yaitu Tuhan Yesus disebut 'Guru yang baik'. Ada 2 bagian percakapan yang terlihat yaitu ayat 17-22 percakapan Tuhan Yesus dengan seseorang yang bertanya hal memperoleh hidup yang kekal dan ayat 23-27 percakapan Tuhan Yesus dengan murid-muridNya.
Dari perikop ini terlihat metode pengajaran Tuhan Yesus adalah perumpamaan. Markus 10:25 mencatat lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Perumpamaan ini terkesan hiperbola karena sepertinya tidak masuk akal namun melihat konteksnya sangatlah masuk akal dengan pemandangan Yerusalem terdapat 2 pintu gerbang kecil seperti lubang jarum di tembok Yerusalem yang hanya cukup dilewati seekor unta. Tuhan Yesus menggunakan alat peraga sebuah gambaran seekor unta dan gerbang kecil seperti lubang jarum di tembok Yerusalem. Tidak pernah terpikirkan oleh murid-muridNya Tuhan Yesus akan menggunakan gambaran ini untuk menunjukkan hal memperoleh hidup yang kekal. Sekalipun tidak dicatat respon murid-muridNya telah mengerti mengenai perumpamaan yang disampaikan Tuhan Yesus, perikop ini erat kaitannya dengan keutamaan pengajaranNya mengenai bukan saja pembuat mujizat (Yesus menunjukkan kuasa) tetapi penyangkalan diri (mengikut Yesus yang menderita).
Setelah menyoroti lebih dekat Markus 10:17-25, penulis mencoba mengaitkannya dengan tipe belajar Robert M. Gagne. Gagne mengungkapkan 8 tipe belajar yaitu:
1.      Tipe belajar tanda-tanda (Signal learning)
Tipe belajar paling sederhana dengan cara memusatkan pada tanda/ sinyal.
2.      Tipe belajar rangsangan-jawaban (Stimulus-response learning).
Tipe ini mirip dengan belajar tanda-tanda namun terjadi usaha untuk membentuk hubungan antara stimulus dengan respon/jawaban.
3.      Tipe belajar rantai perbuatan (Chaining learning)
Tipe ini melakukan sesuatu rentetan kegiatan.
4.      Tipe belajar asosiasi verbal (Verbal association learning)
Tipe ini mengunakan hubungan bahasa.
5.      Tipe belajar membedakan (Discrimination learning)
Tipe belajar menemukan perbedaan juga persamaan yang akhirnya membuat pengelompokkan yang baik yang sifatnya konkrit maupun abstrak.
6.      Tipe belajar konsep (Concept learning)
Tipe belajar menyangkut pemahaman dan penggunaan konsep dasar tentang warna,sifat, kondisi, reflektif dan sebagainya.
7.      Tipe belajar aturan-aturan (Rule learning)
Tipe belajar melalui aturan-aturan yang ada di masyarakat, di sekolah, di rumah dan sebaginya.
8.      Tipe belajar pemecahan masalah (Problem solving)
Tipe belajar ini menghasilkan suatu prinsip yang dapat digunakan untuk memecahkan suatu permasalahan.

Jika diperhatikan dari segi usia tentunya Tuhan Yesus dan murid-muridNya telah melewati 8 tipe belajar Gagne. Dalam perkembangan teorinya, penulis menangkap Gagne menyederhanakan kembali teorinya lebih sistematis untuk memahami lebih tepat tipe pembelajaran murid-murid Tuhan Yesus.

10:17 Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" 
  • Murid-murid Tuhan Yesus tentunya memperhatikan percakapan Tuhan Yesus dan seorang yang tidak dikenal. Penggabungan tipe 1 sampai dengan 3 banyak hal telah dipahami murid-murid sebagai tipe belajar tanda-tanda, rangsangan jawaban, dan rantai perbuatan. Ketika seseorang ingin mendapatkan jawaban tentang apa yang tidak dipahami ia akan mencari orang yang tepat, disini dianggap sebagai ‘Guru yang baik’ untuk bertanya.
10:18 Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja. 10:19 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu! " 10:20 Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku." 10:21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku. 
  • Jawaban Tuhan Yesus kepada seseorang yang bertanya hal apa yang dilakukan untuk memperoleh hidup yang kekal sangat merujuk kepada murid-murid belajar dengan tipe 4 sampai 6 belajar hubungan verbal, membedakan, dan konsep. Percakapan Tuhan Yesus dengan seseorang yang tidak dikenal ini tentu dalam rangka sebuah pengajaran juga bagi murid-muridNya. Maka tidak mengherankan penting bagi Markus mencatat ‘Guru yang baik’ ternyata Tuhan Yesus mengkontraskan konsep ‘baik’ yang dipahami orang tersebut dengan ‘baik yang ada pada Allah saja’ yang telah dipahami murid-murid juga mengenai ‘kebaikan Allah’. Murid-murid tentu akan memahami ‘hukum taurat’ yang seharusnya dijalankan bagi mereka yang ingin memperoleh hidup yang kekal. Perintah Allah yang disebutkan Tuhan Yesus sangat dipahami murid-murid seperti jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu. Namun menjalankan ‘hukum taurat’ tidaklah cukup. Ternyata Tuhan Yesus semakin mengenal dengan siapa Ia berhadapan. Seseorang yang tidak dikenal itu adalah ‘orang kaya yang sukar meninggalkan harta bendanya demi mengikut Yesus’. Murid-murid masuk dalam tipe belajar bahasa istilah, membedakan dan memahami konsep kontras antara ‘orang kaya’ dan ‘orang miskin’, ‘harta di dunia’ dan ‘harta di Sorga’, ‘menyangkal Yesus’ dan ‘mengikut Dia’.
10:22 Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. 10:23 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah." 10:24 Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. 10:25 Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." 10:26 Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" 10:27 Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."
  • Tipe 7 dan 8 merupakan tipe belajar yang paling sulit di level tinggi yaitu aturan-aturan dan pemecahan masalah. Tuhan Yesus membiarkan orang yang tidak dikenal itu pergi dengan sedih sebagai respon bahwa ia memahami apa yang dimaksudkan Tuhan Yesus bahwa ia harus meninggalkan hartanya demi memperoleh hidup yang kekal. Namun apakah murid-murid Tuhan Yesus memahami yang dimaksudkan Tuhan Yesus? Maka perlu sekali Tuhan Yesus kembali menjelaskan dalam percakapanNya dengan Murid-muridNya.
Penjelasan Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan seekor unta dan lubang jarum. Dalam aturan umum di masyarakat Yerusalem bahwa hanya ada 2 pintu gerbang kecil di tembok Yerusalem. Pintu yang dimaksudkan kemungkinan besar bukanlah pintu utama melainkan pintu alternatif. Perumpamaan Tuhan Yesus ini disampaikan dengan kesan hiperbola karena betul kemungkinan ukuran lubang jarum itupun tidak mungkin dilewati seekor unta. Namun pandangan umum dari perumpamaan pintu gerbang kecil itu hanya sebesar lubang jarum yang hanya bisa dilewati seekor unta sendirian tanpa bawaan apapun. Sehingga pandangan umum orang kaya tentu memiliki harta yang banyak diletakkan di atas untanya haruslah menurunkan semua hartanya dan menanggalkannya. Tidak hanya itu seekor unta harus merendahkan badannya kemudian berjalan menyesuaikan demi bisa masuk dalam pintu tersebut. Maka murid-murid mampu menggabungkan konsep antara orang kaya yang sukar masuk kerajaan Allah diibaratkan seekor unta dengan mengangkut banyak harta benda sulit masuk gerbang selubang jarum.
Tuhan Yesus memberi jawab sebagai pemecahan permasalahan yang awalnya terdengar tidak masuk akal ternyata akan sangat mudah dipahami murid-muridNya bahwa orang kaya harus menanggalkan hartanya demi masuk kerajaan Allah sama halnya seekor unta harus menanggalkan semua hartanya demi masuk ke lubang jarum. Tuhan Yesus memahami apa yang dipikirkan murid-muridNya tentu masih memiliki keterikatan dengan hal duniawi yang harus ditanggalkan dengan rendah hati dan taat demi mengikut Dia. Murid-murid berespon begitu sukarnya memperoleh Kerajaan Sorga seperti apa mungkin seekor unta masuk lubang jarum namun Tuhan Yesus mengatakan, “..Segala sesuatu mungkin bagi Allah.”
Ternyata begitu kaya pengajaran Tuhan Yesus bagi murid-muridNya. Terlihat sekali murid-murid Tuhan Yesus telah mencapai tipe belajar dari yang dasar sampai yang kompleks. Bagaimana murid-murid Tuhan Yesus belajar sangatlah luar biasa karena nyata sekali bahwa murid-murid belajar langsung dari ‘Guru yang baik’ yaitu sumber hidup yang kekal.

Penulis berefleksi sebagai murid Kristus pun harus memiliki tipe belajar yang demikian sehingga mampu memahami apa yang Tuhan Yesus maksudkan dalam keseluruhan Alkitab sebagai sumber hidup yang kekal. Jawaban Tuhan Yesus yang sangat memotivasi dan kebenaran yang kekal,
"Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."

Unta masuk lubang jarum

Comments

Popular posts from this blog

10 tempat jalan-jalan gratis relatif murah ala Fide-fisto

Berhubung punya anak yang belum genap 2 tahun dan 4 tahun fokusnya masih suka main dan aktif lari-larian kesana kemari, saya share 10 tempat jalan-jalan gratis murah meriah ala Fide-fisto ๐Ÿ˜๐Ÿ˜€ sepanjang tahun 2017. Ada 3 jenis tempat yg sangat rekomendasi seperti 1 mall indoor, 2 mall outdoor, 3 sekolah alam. Yang perlu dipertimbangkan kalo ke mall keluar masuk pasti gratis, cari playground dimana anak-anak bebas main sepuasnya, bermodalkan 10rb-50rb saja sudah bisa menikmati fasilitas, alam dan jajan, usahakan bawa bekal dan makan dr rumah supaya lebih irit hihi ๐Ÿ˜€๐Ÿค—. Untuk tempat-tempat yang sekiranya bisa mengotori/membasahi baju anak-anak jangan lupa bawa baju ganti termasuk minyak telon ya. Lokasi tempat-tempat yang kami kunjungi lebih sekitaran Bsd & Bogor karena rumah kami ada di tengah-tengah hehe di Gunung Sindur ⛰️๐Ÿž️. Karena bawa bocil2 jadi perlu kendaraan pribadi tetapi kendaraan umum pun tidak sulit dicari. Foto-foto ini hanya sedikit saja jadi silahkan explore se...

Menemukan Gaya Belajarku

Saya dilahirkan di keluarga papa mama dengan latar belakang yang berbeda. Papa saya diangkat anak dengan orang tua beragama Islam otoriter. Setelah percaya Yesus, papa saya mengambil sekolah teologia di I-3 S.Th dan STT Cipanas M.Div dan sekarang pendeta emeritus usia 65 tahun. Sedangkan mama saya seorang ibu rumah tangga dengan latar belakang SMA, ibu Kristen dan bapaknya Islam sama-sama berlatar belakang kepala sekolah. Mendidik keempat anaknya dan sekarang berusia 55 tahun tetap mendampingi papa pelayanan di Gereja Kristus Purwakarta. Papa mama mendidik saya dengan kemandirian karena seringkali ditinggal pelayanan. Dan saya banyak berinteraksi dengan jemaat dalam pelayanan orang tua sehingga membentuk suatu pola konsep baik sederhana sampai hal rumit yang tidak jarang papa saya menjelaskan kepada saya. Tidak mengherankan pula jika pola emosi yang cukup stabil menjadi lingkungan dimana saya belajar. Dari mulai TK, SD,SMP,SMA sampai sempat berkuliah di STTAA, lingkungan Kristiani...