Slogan STTAA (Sekolah Tinggi Teologi Amanat Agung) adalah “preparing excellent pastor-teologians” . Dari slogan ini STTAA tidak hanya membekali mahasiswa secara pemikiran teologis yang Alkitabiah tetapi juga kemampuan, karakter dan spiritualitas yang menjawab kebutuhan ladang Tuhan sebagai hamba Tuhan yang baik. Mahasiswa yang belajar di STTAA berasal dari latar belakang budaya, kebiasaan dan karakter berbeda-beda. Maka pembentukan di komunitas STTAA tentu diperlukan sebuah aturan-aturan. Dalam rangka inilah penulis mencoba mengamati teori belajar behavioristik yang terkandung dalam aturan-aturan di STTAA guna membangun sebuah kebiasaan. Penulis memang tidak tinggal di asrama kampus tetapi beberapa hal yang dapat diamati. Pertama, “bel” menjadi penolong untuk mengingatkan mahasiswa mulai dari jam perkuliahan, jam chapel, jam makan dan sebagainya. Kedua, jam saat teduh pagi, chapel, persekutuan dan pertemuan-pertemuan lainnya diatur sedemikian rupa supaya diikuti bersama. Ketiga, ...