Slogan STTAA (Sekolah Tinggi Teologi Amanat Agung)
adalah “preparing excellent pastor-teologians”. Dari slogan ini STTAA
tidak hanya membekali mahasiswa secara pemikiran teologis yang Alkitabiah
tetapi juga kemampuan, karakter dan spiritualitas yang menjawab kebutuhan ladang
Tuhan sebagai hamba Tuhan yang baik. Mahasiswa yang belajar di STTAA berasal
dari latar belakang budaya, kebiasaan dan karakter berbeda-beda. Maka pembentukan
di komunitas STTAA tentu diperlukan sebuah aturan-aturan. Dalam rangka inilah
penulis mencoba mengamati teori belajar behavioristik yang terkandung
dalam aturan-aturan di STTAA guna membangun sebuah kebiasaan.
Penulis memang tidak tinggal di asrama kampus
tetapi beberapa hal yang dapat diamati. Pertama, “bel” menjadi penolong untuk mengingatkan
mahasiswa mulai dari jam perkuliahan, jam chapel, jam makan dan sebagainya.
Kedua, jam saat teduh pagi, chapel, persekutuan dan pertemuan-pertemuan lainnya
diatur sedemikian rupa supaya diikuti bersama. Ketiga, jam “belajar mandiri” dan
peraturan di perpustakaan pun disediakan untuk diikuti oleh semua mahasiswa
sehingga dapat mengerjakan tugas-tugas dengan baik. Keempat, “waktu bebas” pun
ditentukan guna memiliki waktu untuk memenuhi kebutuhan pribadi seperti,
mencuci pakaian, membeli keperluan pribadi, bertemu keluarga dan sebagainya. Kelima,
“pelayanan weekend” bagi mahasiswa di atur juga oleh kampus untuk mendapatkan
pengalaman melayani di gereja-gereja terdekat. Adapun bapak ibu asrama yang
mendampingi dan mengatur semuanya bagi mahasiswa. Mahasiswa yang tidak
mengikuti atau melanggar diberikan konsekuensi.
Semua kegiatan yang penulis amati sangat menarik
sekali jika dikaitkan dengan teori belajar behavioristik dimana memperlihatkan
proses belajar akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap
telah belajar sesuatu jika seseorang menunjukkan perubahan perilakunya. Prinsip
dalam teori belajar behavioristik sangat terlihat dari jadwal kegiatan di STTAA
merupakan schedules of reinforcement yang diharapkan membawa perubahan
perilaku mahasiswa menjadi memiliki kebiasaan yang baik. Konsekuensi yang
diberikan bagi yang melanggar merupakan reinforcement & punishment
diharapkan memberikan stimulus dan respon yang kuat. Dalam contingency
management, mahasiwa diharapkan mampu mengikuti seluruh kegiatan dengan
baik sehingga stimulus dan respon dapat diamati dan diukur hasilnya. Positif
& negative reinforcement akan terlihat dari sejauh mana mahasiswa berhasil
atau tidak mendapatkan kebiasaan baik untuk dapat diimplementasikan dalam pelayanan
setelah lulus dari STTAA.
Harapan dari seluruh pembentukan di STTAA melalui teori
belajar behavioristik tentunya akan terlihat dan terukur ketika masuk di
dalam ladang pelayanan. Sekalipun tidak ada “bel” dan “jadwal” dengan
sendirinya terbentuk sebuah kebiasaan mengatur waktu pribadi dengan Tuhan, waktu
belajar terus mengembangkan diri, waktu bersama keluarga dan waktu dalam
pelayanan sehingga dapat dilakukan dengan sangat baik. Maka tidak mengherankan salah satu proses
belajar ini diperlukan guna menjadi seorang hamba Tuhan dituntut sempurna dalam
banyak hal.

Comments
Post a Comment